RENCANA USAHA PUPUK ORGANIK TKKS




Saat ini masyarakat tani banyak menggunakan pupuk tunggal / anorganik yang dicampur sendiri dilapangan dengan harga beli yang tinggi, dengan kesadaran akan pemahaman penggunaan pupuk organic sangat rendah maka perlu dilakukan strategi pasar yang benar-benar baik dan jitu.
 Jika dipasar pupuk sejenis dijual dgn harga rata-rata Rp 50.000,- dan mengingat harus adanya profit shearing antara produsen, distributor, pengecer maka direncanakan produsen hanya mengambil ± 350% keuntungan sehingga harga jual produsen adalah Rp 35.000,-/ zak . 








Bab 1
Latar Belakang

1.1              Pendahuluan
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara agraris dimana 80 % penduduknya adalah petani, begitu juga dengan Sumatera Utara yang dikenal dengan perkebunan kelapa sawit dan karetnya . Oleh karena itu untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian dibutuhkan pemupukan baik menggunakan pupuk organic maupun pupuk kimia.
Dalam hal pemupukan petani sudah banyak mengenal jenis pupuk dan kegunaannya seperti NPK, UREA, TSP, dan beberapa pupuk majemuk lainnya yang siap pakai sesuai dengan jenis tanaman.
Selain itu, mengingat banyaknya bahan baku untuk pupuk organic yang belum dimanfaatkan dan manfaat pupuk organic sebagai substitusi pupuk kimia dimana dapat mengurangi pemakaian pupuk kimia hingga 40% s/d 60 %, jika digunakan secara terus menerus tidak merusak tanah dan akan kelihatan hasilnya setelah 6 bulan adalah peluang untuk memproduksi pupuk organic secara berkesinambungan.

1.2              Visi
Meningkatkan hasil pertanian dengan penggunaan pupuk organik yang murah dan berkualitas sehingga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tani.

1.3              Misi
·         Menciptakan lapangan pekerjaan baru
·         Meningkatkan hasil pertanian
·         Menyediakan pupuk murah




Bab 2
Penjelasan Produk
2.1       Produk 
            Pupuk yang akan diproduksi diberi nama Organik Sangga Alam Makmur atau disingkat Organik- SAM dengan komposisi unsur sebagai berikut:
PARAMETER
HASIL UJI
aktivator
Orgadec
Promi
Stardec


PH
8




Nitrogen  (%)
1,5




C-org  (%)
35,1




C/N
23




P2O5   (%)
0,8




K2O (%)
2,5




MgO
0,9




CaO
1




Cu (ppm)
-




Zn (ppm)
-




Organik- SAM merupakan pupuk organic yang dibuat dari tandan kosong kelapa sawit

2.2              Bahan Baku
Adapun bahan baku yang dibutuhkan adalah :
  1. Tandan kosong kelapa sawit
  2. Activator

2.3              Cara memperoleh Bahan Baku
Dalam memperolah bahan baku, Produksi ditopang langsung oleh pabrik minyak kelapa sawit dengan kapasitas sementara 10 ton / jam dan akan ditingkatkan hingga 40 ton / jam sehingga produksi TKKS antara 2,3 ton/jam s/d 3 ton/jam atau hingga 9,2 ton/jam s/d 12 ton/jam.


2.4              Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat pupuk ini adalah :
  1. Mesin pencacah tkks kapasitas 2 ton/jam 1 unit ( investasi awal )
  2. Mesin penghancur kompos 1 unit
  3. Mesin packing 1 unit
  4. Mesin pengaduk vertical 1 unit
  5. Konveyor 2 unit
  6. Engine  24 hp atau genset 50 kw
  7. Loader 1 unit
  8. Excavator  1 unit
  9. Pompa cenctrifugal 1 unit
  10. Instalasi pipa
  11. Timbangan 2 unit
  12. Plastic penutup tuk luas 1 ha
  13. Goni Kemasan / packaging
  14. Benang Jahit
  15. Mesin Jahit

2.4.1        Pemilihan Mesin Pencacah
Sebelum membeli atau membuat mesin pencacah terlebih dahulu dilihat karakter bahan yang akan dicacah;  adapun bahan yang akan dicacah adalah Tandan Kosong kelapa sawit dengan karakter berserabut , liat, dan sedikit kejur. Dipasaran ada beberapa jenis mesin yang sudah siap pakai dengan model potong sebagai berikut:
a.                   Type Perajang
Pola  as screw dan batang pisau vertical poros yang bekerja secara radial, as screw dan pisau vertical yang terletak pada tabung silinder tebal (casing) dengan putaran 1500 rpm, dimana TKKS dimasukkan ke dalam feeding, kemudian diteruskan oleh screw sebagai pengarah dan penggilas awal ke susunan pisau potong vertical yang berputar searah dengan screw sehingga TKKS terpotong-potong sepanjang 2,5 cm s/d 25 cm.

                                                                         




Gbr 1. Bentuk mesin pencacah





 Gbr 2. Detail Pisau Pencacah
Jenis mesin ini memiliki kontruksi yang kurang kokoh dan kemungkinan untuk macet tinggi untuk material TKKS, sehingga nantinya diperlukan modifikasi pada langkah awal dengan menambahkan screw pengarah sebelum memasuki pisau pemotong tersebut seperti dilihat pada gambar.  Adapun daftar harga di pasaran adalah sebagai berikut:
Table 1. daftar harga mesin perajang/pencacah di pasaran
No
Kapasitas
Harga/unit
Produksi
1
100 kg/jam
Rp 10.000.000,-
Local (Jakarta)
2
300 kg/jam
Rp 13.000.000,-
-
3
500 kg/jam
Rp 15.800.000,-
-
4
1000 kg/jam
Rp 18.000.000,-
-

b.                  Type Grinder
Pola shear as (gunting) dengan model dua buah poros yang di bentuk seperti susunan cincin yang saling mengisi dengan putaran 1500 rpm dengan cara kerja sebagai berikut TKKS dimasukkan kedalam feeding kemudian dengan struktur TKKS yang berserabut akan mendapat jepitan dan guntingan oleh poros pisau tersebut sehingga akigat gaya gunting yang terjadi maka serabut TKKS akan terpotong-potong seukuran lebar  cincin dan tebal cincin yang dibuat pada as pisau tersebut. 





Gbr 3. mesin pencacah type grinder

 Gbr 4. Poros pemotong pada mesin type grinder


Table 2.Daftar harga mesin pencacah type grinder dipasar
No
Kapasitas
Harga / unit
Produksi
1
s/d 75 kg/jam
Rp   12.900.000,-
Local (Jakarta)
2
s/d 150 kg/jam
Rp   15.200.000,-
-
3
s/d 500 kg/jam
Rp   18.300.000,-
-
4
s/d 800 kg/jam
Rp   25.800.000,-
-
5
1000 s/d 2000 kg/jam
Rp   30.500.000,-
-
6
7000 s/d 8000 kg/jam
Rp 385.000.000,-
Import / malaysia

Dengan menganalisa dua type mesin tersebut diatas maka sebaiknya digunakan type grinder sebab type perajang kemungkinan macet dan kerusakan patah pisau dan kegagalan potong sangat tinggi sedangkan type grinder memiliki kontruksi pemotong yang kokoh dan kemungkinan macet dan kerusakan pisau sangat kecil.
Berdasarkan hasil produksi TKKS diperhitungkan dalam masa ini adalah 2 ton/jam maka mesin yang akan dibeli adalah type grinder dengan kapasitas antara 1 ton/jam s/d 2 ton/jam Rp 30.500.000,- (tanpa mesin penggerak), sehingga mesin penggerak yang dibutuhkan adalah engine dengan daya minimum 24 hp s/d 30 hp atau 18 s/d 22 Kw.
Mengingat hasil pematangan kompos nantinya masih dalam bentuk serabut lunak maka perlu dilakukan penggilingan kembali untuk mendapatkan tingkat kehalusan dengan menggunakan mesin hummer mill. Jika akan dibuat menjadi granuller maka dibutuhkan mesin granuler dan mesin  rotary drayer.

2.4.2.      Handling Material
Untuk handling material jika dilakukan secara otomatis maka dibutuhkan  konveyor untuk menaikkan TKKS ke dalam feeding mesin pencacah , tetapi jika akan dilakukan secara manual maka konveyor dapat diabaikan.
Out put mesin pencacah akan ditransfer ke areal pematangan yang dapat dilakukan dengan manual  menggunakan kereta sorong atau mekanis dengan excavator.


2.4.3.      Pembalik dan Pencampuran Activator
Dalam proses pematangan kompos dibutuhkan activator untuk mempercepat proses pengomposan TKKS, sehingga dibutuhkan bak pengaduk atw mesin pengaduk sesuai dengan jenis activator yang akan digunakan.
Untuk proses ini jika menggunakan activator promi produksi balai penelitian bioteknologi perkebunan bogor maka dibutuhkan
1.      Bak pengencer dan pengaduk
2.      Instalasi pipa penyemprotan pada areal pematangan
3.      Pompa sentrifugal
4.      Alat pembalik
5.      Plastik penutup
Jika menggunakan activator Orgadec maka diperlukan beberapa alat sbb:
1.      Alat pengaduk/ mixer mc
2.      Alat pembalik  ( cangkol, skop, traktor dsb)
3.      Plastik penutup
Table 3. Daftar harga alat pembalik
No
Mesin/alat
Kapasitas
Harga (Rp)
Produksi
1
Mixer
100 kg
6.750.000,-
lokal
2
Cangkul/sekop
-

-
3
Plastic
10.000 m2
65.000,- / mtr
-
4
Tractor


-
5
Pompa
H = 100 mtr
750.000,- / unit
-
6
Instalasi pipa
L = 10.000 m2
25.000.000,-
-

Pembentukan produk akhir
Setelah TKKS yang dicacah telah matang dengan ditandai serat sudah lapuk dan mudah patah, selanjutnya akan dilakukan proses penghancuran dengan menggunakan mesin lainnya tergantung bentuk dan kehalusan yang diinginkan serta harga yang akan dilepas ke pasar dalam hal ini akan menggunakan mesin-mesin al:
1.      Mesin penepung (hummer mill, disc mill, dsb)
2.      Mesin mixer


3.      Mesin granular
4.      Mesin drayer
Table 4. Daftar harga mesin / alat pengolahan akhir
No
Mesin
Kapasitas
Harga (Rp)
Produksi
1
Hummer mill
300 kg/jam
75.000.000,-
lokal
2
Mixer
2000 kg/jam
37.250.000,-
-
3
Granular
3000 kg/jam
45.500.000,-
-
4
Rotary Drayer
2000 kg/jam
50.000.000,-
-
Total
207.750.000,-


                        Packaging / pengepakan
Setelah bentuk akhir diperoleh dan produk akan dijual maka dibutuhkan kemasan baik dalam bentuk zak karung 50 kg maupun zak plastic 5 kg sehingga untuk mempermudah pengemasan dibutuhkan :
1.      Mesin mix vertical
2.      Timbangan
3.      Mesin jahit karung
4.      Karung kemasan 50 kg.

No
Mesin
Kapasitas
Harga (Rp)
Produksi
1
Mesin mix vertical
2 ton/jam
35.500.000,-
Local
2
Timbangan
50 kg
3.750.000,-
lokal
3
Mesin jahit

1.250.000,-
lokal
4
Karung 50 kg
7.280 zak/hk
10.920.000,-
@ Rp1.500/zak

Total

51.420.000,-







Bab 3
Proses Pembuatan

3.1              Penataan Ruang Produksi
Penataan ruang produksi yang matang akan memudahkan proses kerja  dan dapat menghindari kejenuhan kerja, ruang kerja akan terbagi menjadi ruang bahan baku dan ruang penimbangan bahan baku menjadi satu, ruang molen, ruang jahit dan ruang produk jadi menjadi satu, ukuran total ruang yg dibutuhkan diperkirakan antara 6 x12 s/d 12 x 24 atau lebih melihat kondisi.   Ada pun pembagian denah ruang kerja seperti gambar berikut ini:




















Gbr 1. Tata ruang produksi 

3.2       Flow Proses Produksi





Gbr 5. Flow proses produksi

3.2              Kapasitas produksi
Dengan menggunakan system konvensional (sementara) dimana alat pengaduk adalah molen semen dengan kapasitas 1,5 kg s/d 2 ton dalam 1 jam kerja dan mesin pencacah dengan kapasitas 2 ton/jam maka untuk 1 hk atau 7 jam kerja  hasil produksi adalah 14 ton/ hari atau 364 ton/bulan 

Bab 4
Analisa Perencanaan Keuangan

4.1              Perencanaan Keuangan
Adapun rencana keuangan sebagai modal adalah sebagai berikut:
    1. Pinjaman Overdraft dari bank.
Dalam hal ini dibutuhkan agunan tertentu untuk memenuhi modal kerja selama beberapa bulan.
    1. Pinjaman dari sahabat atau kerabat
Bentuk pinjaman ini diharapkan tanpa jaminan tetapi dilakukan pembagian hasil hingga terjadi Break Even Point atau dilakukan kontrak kerja sama
4.2 Biaya Produksi
  1. Biaya Tenaga Kerja
Dengan system produksi konvensional menggunakan molen pengaduk semen maka staffing yang dibutuhkan adalah 4 orang pekerja harian dan 4 orang staff dengan perincian sebagai berikut:
  • Kepala Pabrik              1 org                                        Rp 3.500.000,- / bln
  • Kepala Produksi          1 org                                        Rp 2.000.000,- / bln.
  • Kepala marketing        1 org                                        Rp 1.500.000,-/ bln
  • Kepala Pembukuan     1 org                                        Rp 1.000.000,-/ bln
  • Pekerja harian  4 org x Rp 1.000.000,- / bln                Rp 4.000.000,- / bln
­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­_______________________________________________________________
  • Total                                                                            Rp 12.000.000,- / bln

Dengan mengasumsikan hasil produksi 364 ton / bln dimana out put produksi 364 ton / hari, dengan biaya tenaga kerja Rp 461.539,-/ hari sehingga upah perkilogramnya adalah Rp 32,- / kg.



  1. Biaya bahan baku
Berdasarkan kondisi yang dibuat yaitu menerima langsung dari PKS maka komponen biaya bahan baku hanya berdasarkan komponen biaya handling material untuk menghasilkan produk 14 ton diperlukan 2 kali angkut dengan asumsi pengangkutan menggunakan dump truck, dimana ongkos angkut Rp 100.000,- maka harga bahan per kilogram adalah Rp 15,-/kg
  1. Biaya packaging
Untuk menarik konsumen maka perlu dibuat kemasan semenarik mungkin dengan harga per lembar goni dan sablon merknya diperkirakan Rp 1500,- maka biaya kemasan perkilogram pupuk jika per zak 50 kg adalah  Rp 30,-/ kg

  1. Biaya utility
Akibat penggunaan peralatan berupa molen, mesin jahit, computer, penerangan, pompa air dsbmaka hal ini dapat dirncikan sbb:
  • Listrik / bln                                          Rp 1.300.000,-
  • Sewa Gedung / Rumah  / bln              Rp 3.000.000,-
  • ATK                                                    Rp 2.000.000,-
  • PAM                                                   Rp    300.000,-
________________________________________________________________________
  • Total                                                    Rp 5.600.000,-

Dengan mengambil 26 hari kerja dalam 1 bulan maka biaya utility per hari adalah Rp 215.385,- sehingga biaya utility per kilogram  Rp 112,- / kg.

  1. Biaya Penyusutan Peralatan
Mengingat adanya life time dari peralatan maka perlu dilakukan perhitungan biaya penyusutan sbb:
  • Mesin pencacah tkks kapasitas 2 ton/jam 1 unit ( investasi awal ) harga Rp 30,5 jt
Masa pakai 5 thn (1800 hari) Biaya depresiasi / hari Rp 16.944,-
  • Mesin konveyor 1 unit Rp 26,5 jt dengan masa pakai 3 tahun maka biaya depresiasi / hari Rp 24.200,-
  •  
  •  
  • Mesin pengolahan akhir 1 set Rp207.750.000,- dengan masa pakai 5 thn maka biaya depresiasi / hari Rp 115.420,-
  • Mesin packing 1 set Rp 40.500.000,- dengan massa pakai 3 thn maka biaya depresiasi / hari Rp 36.990,-­­­­­­­­­­­­­­­­                                                                                        
            Total biaya depresiasi per hari                                                 Rp 193.554,-
Maka biaya depresiasi per kilogram produknya adalah Rp 13,85,-/kg

Dengan adanya biaya perizinan yang harus dilakukan perpanjangan setiap 3 tahun maka hal ini harus dilakukan perhitungan depresiasinya terhadap produk Yaitu :
Biaya perizinan Rp 7.000.000,- maka biaya depresiasinya Rp6.395,-/ hari atau Rp 0,45,- / kg maka total biaya depresiasi adalah Rp 14,5,-/ kg

4.3 Total Biaya Produksi
Dari perincian diatas maka total biaya produksi untuk membuat 1 kg pupuk adalah  :
a. Biaya bahan baku                                                    Rp  15,- / kg
b. Biaya packaging                                                      Rp  30,- / kg
c. Biaya Utility                                                            Rp112 ,- / kg
d. Biaya Tenaga Kerja                                                            Rp  32 ,- / kg
e. Depresiasi Alat                                                        Rp  14,5,- / kg
Total                                                                            Rp   203,5,- / kg
Maka biaya produksi per kilogram adalah Rp 203,5,-
Dan harga pokok per zak @ 50 kg adalah Rp 10.175,-/kg

4.4. Perencanaan Harga jual
Jika dipasar pupuk sejenis dijual dgn harga rata-rata Rp 50.000,- dan mengingat harus adanya profit shearing antara produsen, distributor, pengecer maka direncanakan produsen hanya mengambil ± 350% keuntungan sehingga harga jual produsen adalah Rp 35.000,-/ zak . 


Bab 5
Pemasaran
5.1 Kondisi Pasar
Saat ini masyarakat tani banyak menggunakan pupuk tunggal / anorganik yang dicampur sendiri dilapangan dengan harga beli yang tinggi, dengan kesadaran akan pemahaman penggunaan pupuk organic sangat rendah maka perlu dilakukan strategi pasar yang benar-benar baik dan jitu
Melihat kondisi tersebut ada beberapa perusahaan yang telah membuat dan memasarkan pupuk organik, namun begitu melihat kebutuhan pupuk yang begitu besar kita masih dapat merebut pasar antara 1,5 %  (sesuai kapasitas produksi sementara) dari kebutuhan pupuk min 23.833 ton / bln  di daerah pemasaran Labuhan Batu. Belum pada daerah lainnya maka peluang untuk pasar masih sangat besar
Dengan mendata produk sejenis yang beredar dipasaran antara lain:
No
Jenis
Berat/zak  (kg)
Harga ( Rp)
Produsen
1
Growt big
50
60.000,-
lokal
2
Organic Pupuk kujang
50
50.000,-
Subsidi
3
Organic tanpa merk
50
75.000,-
Masyarakat
4
Organic thailand
50
200.000,-
Thailand

Maka harga pupuk yang akan diproduksi hingga ke konsumen maksimum Rp 60.000,-
Melihat kondisi supply pupuk dipasar sering terkendala atau langka maka perlu dilakukan system produksi yang berkelanjutan. Begitu juga dengan kwalitas beberapa jenis pupuk tersebut yg kurang baik menyebabkan  dengan keunggulan persentase  Yang berguna dalam perangsang buah dan pematangan buah menyebabkan kemampuan penetrasi pasar akan lebih baik.
5.2              Peluang dan Kesempatan
  1. Kendala
Akibat penggunaan  pupuk yang begitu besar pada tanaman disaat kondisi tertentu sehingga petani melakukan metode pencampuran sendiri saat pemupukan, sering menyebabkan salah komposisi akibatnya kerugian dalam jumlah pemakaian jenis pupuk tunggal meningkat.

Seringnya terjadi kelangkaan pupuk dan tingginya harga pupuk yang dibutuhkan saat kondisi tertentu pada tanaman misal saat pasca tanam, saat pematangan buah dsb, menyebabkan petani mengurungkan niatnya melakukan pemupukan.
Banyaknya beredar pupuk NPK yang komposisi pada kemasan tidak sesuai dengan komposisi pada pupuk itu sendiri sehingga tidak melihatkan hasil pada tanaman.
Oleh karena tersebut diatas maka perlu diproduksi “organic - SAM” secara continue karena komposisi telah dibuktikan pada lab. Pusat penelitian kelapa sawit dimana unsur yang terkandung didalam nya petani sendiri mengetahui fungsinya.
B.Peluang
Melihat komposisi yang terkandung dalam Organik - SAM, berdasarkan kebutuhan konsumen, mudahnya penggunaan pada tanaman, dan fungsinya yang lengkap  
Merupakan nilai lebih bagi produk tsb sehingga kemampuan penetrasi pasar oleh produk itu sendiri sangat baik sehingga peluang diterima konsumen sangatlah besar.
Namun demikian perhatian terhadap pertumbuhan lahan pertanian yang begitu pesat juga pertumbuhan lahan untuk pemukiman dapat dijadikan acuan sebagai pertimbangan tetapi berdasarkan kebijakan pemerintah dalam hal perkebunan maka dpt dipastikan kebutuhan pupuk akan meningkat terus.        
5.3              Persaingan
Dengan banyaknya jumlah Produk pupuk yang sejenis dengan perbedaan komposisi unsur didalamnya yang beredar di wilayah Labuhan Batu –Riau (rencan pasar) merupakan sebuah factor penting dalam rencana produksi, sehingga nantinya perlu diperhatikan strategi dalam penetrasi pasar pada wilayah tsb.
Kebutuhan pupuk untuk Wilayah Labuhan Batu ± 23.833 ton / bln Dengan kemampuan produksi sementara hanya 364  ton/bln hanyalah mengambil 1,5% kebutuhan pasar, ini sangat kecil jika dibandingkan dengan angka pertumbuhan perkebunan masyarakat, jika wilayah pemasaran meliputi Sumatera Bagian Utara, al: Sumatera utara, Pekan Baru, Jambi dan Padang maka total produksi hanya akan mengisi 0,00 % dari kebutuhan total.
Banyaknya beredar pupuk sejenis yang telah terbukti kurang baik tetapi tetap laku dipasaran maka Organik – SAM yang secara komposisi sangat baik, maka diharapkan kedepannya konsumen dapat membandingkan sendiri nilai manfaat dari tiap produk tsb sehingga menjadi peluang produk menjadi unggul, apalagi dibarengi dengan harga yang lebih murah dan strategi pasar yang baik dengan memberi keuntungan yang tinggi kepada pengecer maupun distributor.           
5.4              Strategi Bisnis
  1. Tujuan
Merupakan hasil jangka panjang yang akan dicapai dalam usaha produksi pupuk Organik - SAM adalah:
    • Membuat pupuk berkualitas  dengan biaya produksi yang murah, sehingga harga jual dapat bersaingan dengan pupuk lainnya.
    • Produksi yang berkesinambungan sehingga terjadi peningkatan kwalitas dan kwantitas.
  1. Sasaran
Bisnis pupuk Organik – SAM diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih baik kepada konsumen, produsen dan pihak pihak yang terlibat baik secara financial maupun social kemasyarakatan.        
  1. Target Pasar
Dalam hal ini yang menjadi target utama pemasaran adalah para petani tanaman keras  khususnya kelapa sawit, dengan wilayah pemasaran awal adalah Labuhan Batu, sumatera utara dan sekitarnya.
D. Penggalangan relasi
Untuk mensukseskan bisnis ini dilakukan penggalangan kepada :
·         Perusahan penyedia bahan baku: Hal ini harus dilakukan sehingga ketersedian bahan baku terjamin.
·         Sales distributor pupuk yang sudah mapan sehingga produk dapat dipasarkan oleh mereka sebagai penghasilan tambahan.
·         Petani besar sebagai konsumen langsung.





Bab 6
Analisa Usaha Pupuk NPK Growth Big
6.1 Modal
berlandaskan kemampuan produksi 364 ton / bln maka dapat dilakukan perincian  modal usaha per bulan sebagai berikut.
1. Modal Tetap (Pokok)
  1. Mesin pencacah                                                           Rp     30.500.000,-
  2. Konveyor                                                                    Rp    26.500.000,-
  3. Mesin pengolahan                                                       Rp  207.750.000,-
  4. Mesin packing                                                             Rp    40.500.000,-

Rp   305.250.000,-
2. Modal Berkala
  1. Sewa gedung                                                              Rp   3.500.000,-
  2. Biaya listrik                                                                 Rp   2.300.000,-
  3. Biaya ATK                                                                  Rp   2.000.000,-
  4. Transport                                                                     Rp   7.500.000,-
  5. Bahan Baku untuk 364 ton/bln                                   Rp   5.200.000,-
  6. Kemasan                                                                     Rp 10.920.000,-
  7. Upah Kerja                                                                  Rp 14.000.000,-
Rp 34.500.000,-
Total modal investasi awal adalah Rp 339.750.000,- .
Dengan demikian selama 26 hari kerja diperlukan biaya Rp 34.500.000,- berarti perhari harus mengeluarkan modal Rp 1.326.923,-

6.2 Prediksi Rugi Laba
Saat ini harga per zak pupuk  yang sejenis lokal adalah Rp 40.000,- s/d 60.000,- sedangkan produsen melempar harga ke penjual pertama ( distributor ) adalah Rp 35.000,- / zak  dan harga dasar produksi Rp 10.175,-  dan kemampuan produksi antara 364  ton / bln atau 7280 zak / bln.
Dengan assumsi hasil produksi bulan pertama adalah 364 ton atau 7280 zak maka secara rincian rugi-laba nya adalah sebagai berikut :
a.  Biaya produksi per zak @ 50 kg                                                    Rp 10.175,-
b. Harga jual per zak @ 50 kg                                                            Rp 35.000,-
maka keuntungan per zak                                                                   Rp   24.825,-
Sehingga keuntungan per bulan adalah Rp 180.726.000,-
Dengan melihat kemampuan produksi tkks direncanakan  hingga 9,8 ton / jam dengan biaya tenaga kerja, utility, dan depresiasi alat tetap maka  keuntungan akan lebih baik lagi. 
6.3 Proyeksi Keuntungan
Dengan memasukkan hasil produksi dan nilai keuntungan per bulan maka dapat dilakukan pentabelan dimana modal tetap Rp 12.550.000,- dan proyeksi hasil sbb:
Bln ke.
Modal
(Rp)
Jlh produksi
Keuntungan Bersih
(Rp)
Tetap
Baku
Dll
Ton
Zak
Total


1
305.250.000,
34.500.000

0
0



2

34.500.000

364
7280



3

34.500.000

364
7280
180.726.000


4

34.500.000

364
7280
180.726.000


5

34.500.000

364
7280
180.726.000


6

34.500.000

364
7280
180.726.000


7

34.500.000

364
7280
180.726.000


8

34.500.000

364
7280
180.726.000


9

34.500.000

364
7280
180.726.000


10

34.500.000

364
7280
180.726.000


11

34.500.000

364
7280
180.726.000


12

34.500.000

364
7280
180.726.000


Total




Dengan melihat table diatas maka keuntungan bersih pertahun tanpa dibarengi dengan peningkatan jumlah produksi dengan biaya tetap dan biaya lainnya (biaya sewa gedung, biaya listrik, biaya ATK, transport, upah kerja, kemasan dan royalty) juga tetap adalah :
Rp 1.807.260.000,- pada tahun pertama.

0 comments:

Post a Comment